Rabu, 17 Juni 2009
di
06.58
|
PROGAM ACARA TV (Reality Show)

Termehek-mehek sudah beberapa pekan ini menjadi program dengan rating dan share tertinggi di Trans TV, bahkan all station. Belt program tersebut, Jika Aku Menjadi juga mendapat share yang tinggi di jam tayang utama. Sukses program ini, seperti biasa, langsung mendapat “sambutan” dari teve lain.
Menarik sekali menyimak program reality show yang dikemas untuk penonton anak muda ini. Termehek-mehek yang tayang dua kali sepekan (Sabtu-Minggu), misalnya, di pekan 0849 bisa menembus average rating 7.2, dan share 26.6. Di Trans TV, program ini merupakan acara dengan capaian tertinggi untuk semua program, sedangkan Jika Aku Menjadi yang menjadi lead program Termehek-mehek, bisa menembus rating share 4.0/20.6
Rating adalah pemindai untuk menunjukkan jumlah persentase penonton. Angka 7,2 mengindikasikan sebanyak 7,2 persen responden (42,6 juta) menyaksikan acara tersebut. Adapun 26,6 menunjukkan sebanyak angka tersebut di jam tayang program itu menyaksikan Termehek-mehek. Untuk saat ini, sebuah program mendapat angka rating tujuh sudah merupakan keistimewaan. Banyak program yang ratingnya justru di bawah angka 1.
Secara sosiokultural, kebiasaan penonton yang mudah digiring TV menempatkan pemirsa hanya sebagai obyek. Di sini hukum ekonomi berjalan, setiap ada permintaan, akan selalu muncul supply. Para kreator program TV juga memanfaatkan betul kebutuhan pasar. Sudah semakin tipis rasa malu untuk menjadi pengikut, menjadi peniru. Yang penting mendapat share dan rating yang bagus. Lagi-lagi, penonton hanya dijadikan obyek, dijadikan pasar, tanpa bisa ikut menentukan harga, tanpa pernah bisa mengendalikan mekanisme jual beli.
Penonton kita belum bisa menjadi subyek, yang ikut memilih program yang bagus dan yang tidak layak tonton. Bahkan, pemirsa juga belum bisa membedakan program yang boleh untuk ditonton bersama keluarga, dan program yang membahayakan keluarga.
Di dunia TV, yang menjadi dewa adalah rating/share, yang sialnya, sudah belasan tahun dimonopoli oleh satu lembaga survei. Terlepas data yang didapatkan benar atau tidak, akurat atau tidak, angka-angka share dan rating sudah menjadi referensi semua yang terlibat di industri TV. Mulai dari pengelola, kreator, sampai pemasang iklan. Semua hanyut dalam gelombang bernama rating.
Dengan kondisi penonton seperti itu, menjadi tidak penting, apakah program tv itu edukatif atau tidak. Yang penting, pemirsa senang, terhibur. Soal risiko setelah menonton acara, itu menjadi tanggung jawab masing-masing individu. Menjadi aneh juga bila kita lantas menganalisis, apakah reality show itu benar-benar nyata atau dramatisasi. Juga tidak penting masuk akal atau tidak, yang penting happy (seperti halnya kecenderungan sebagian besar sinetron kita).
Dalam Termehek-mehek. Salah satu episode menampilkan seorang “klien” yang mengungkapkan adiknya jatuh sakit karena ditinggalkan cowoknya. Ditinggal pacar adalah persoalan banyak remaja. Begitu juga, perempuan yang tidak tahan, lantas depresi, juga bukan hal yang aneh. Di layar kaca, persoalan itu lantas dikemas menjadi tontonan yang menarik. Di ujung cerita, ada pertemuan mengharukan antara klien dan target. Ada yang memuji, Trans TV patut diacungi jempol karena acara menayangkan program reality show yang bernilai pendidikan, yaitu mendidik kita bahwa kasih sayang antarsesama manusia itu ternyata sangat indah.
Bagi sebagian orang yang mengerti tentang industri film dan televisi, cukup mudah untuk menilai program yang benar-benar nyata, dan mana program yang sebenarnya sinetron gaya lain. Artinya, bisa jadi, ada unsur manipulasi. Ada unsur akting semua orang yang terlibat. Ada skenario dan juga penyutradaraan. Meski begitu, sebagai tontonan, sebenarnya tetap sah membuat demikian. Yang dituntut memang kejujuran para kreatornya: apakah ia berani mengklaim program itu reality show atau sebenarnya realitas yang semu. Yang dibuat-buat.
Yang mengkhawatirkan, jika penonton akhirnya tahu, program kesayangannya adalah manipulasi, maka bisa jadi mereka akan serta merta meninggalkan program tersebut. Enggan menonton lagi. Jika satu orang yang tahu, tidak masalah. Jika sejuta orang tahu, baru akan menjadi masalah. Atau, kita tunggu sampai mayoritas orang menjadi bosan.
Reality Show yang Sehat
Di luar acara-acara tadi, kita masih bisa berharap sedikit dari beberapa program reality show yang benar-benar realis. Kita lihat Snapshot (Metro TV), Mata Kamera (TV One), dan John Pantau (Trans TV). Tiga program ini menelanjangi realitas-realitas yang begitu dekat dengan kita. Tentang perilaku orang-orang, entah itu orang-orang biasa, atau justru berjuluk orang pemerintah.
Snapshot, Mata Kamera, dan John Pantau menjadi kacamata yang cerdas untuk menyisir kisah-kisah tentang pelanggaran hukum. Tentang kesemrawutan, tentang sesuatu yang terlihat sudah biasa, padahal sebenarnya menyalahi tata aturan sosial. Kita biasa melihat orang-orang jahil saat menggunakan fasilitas umum, PNS yang berbelanja di saat jam kerja, atau aparat yang meminta uang “jago” di jalanan.
Yang ditampilkan ketiga program itu sebuah kenyataan. Tanpa ada rekayasa. Sangat jelas beda dengan program yang disebut terdahulu, yang memiliki rating dan share tinggi tadi.
Ketiganya hanya menyajikan potret buram sebagian masyarakat kita. Naik motor tanpa helm, memutar kendaraan di tempat terlarang, pacaran di atas jembatan, atau juga anak sekolah yang justru asyik main game saat jam pelajaran. Atau juga perilaku warga yang hanya taat hukum di saat ada polisi, atau justru polisi yang justru berkendara tanpa memiliki SIM.
Semua itu biasa kita temukan. Kita menyaksikan itu sehari-hari, tetapi tak punya daya untuk menyampaikan, meski sekadar menyindir. Dan, tiga acara ini, dengan cara yang berbeda: menelanjanginya. Unsur spontitas, keluguan orang-orang yang ditemui, menjadi protret kita bersama. Inilah reality show yang sesungguhnya.
Kita masih berharap makin banyak program yang berani mengungkap kebenaran. Yang membuat orang makin bisa mengerti tentang realitas hidup, bukan hidup yang didramatisir. Bukan cerita bohong penuh mimpi seperti biasa hadir dalam sinetron-sinetron. Dan, Anda, penonton TV, punya andil untuk ikut menentukan program yang mengibur-mendidik atau menghibur-membodohi./*
Pracoyo Wiryoutomo, jurnalis televise.

Termehek-mehek sudah beberapa pekan ini menjadi program dengan rating dan share tertinggi di Trans TV, bahkan all station. Belt program tersebut, Jika Aku Menjadi juga mendapat share yang tinggi di jam tayang utama. Sukses program ini, seperti biasa, langsung mendapat “sambutan” dari teve lain.
Menarik sekali menyimak program reality show yang dikemas untuk penonton anak muda ini. Termehek-mehek yang tayang dua kali sepekan (Sabtu-Minggu), misalnya, di pekan 0849 bisa menembus average rating 7.2, dan share 26.6. Di Trans TV, program ini merupakan acara dengan capaian tertinggi untuk semua program, sedangkan Jika Aku Menjadi yang menjadi lead program Termehek-mehek, bisa menembus rating share 4.0/20.6
Rating adalah pemindai untuk menunjukkan jumlah persentase penonton. Angka 7,2 mengindikasikan sebanyak 7,2 persen responden (42,6 juta) menyaksikan acara tersebut. Adapun 26,6 menunjukkan sebanyak angka tersebut di jam tayang program itu menyaksikan Termehek-mehek. Untuk saat ini, sebuah program mendapat angka rating tujuh sudah merupakan keistimewaan. Banyak program yang ratingnya justru di bawah angka 1.
Secara sosiokultural, kebiasaan penonton yang mudah digiring TV menempatkan pemirsa hanya sebagai obyek. Di sini hukum ekonomi berjalan, setiap ada permintaan, akan selalu muncul supply. Para kreator program TV juga memanfaatkan betul kebutuhan pasar. Sudah semakin tipis rasa malu untuk menjadi pengikut, menjadi peniru. Yang penting mendapat share dan rating yang bagus. Lagi-lagi, penonton hanya dijadikan obyek, dijadikan pasar, tanpa bisa ikut menentukan harga, tanpa pernah bisa mengendalikan mekanisme jual beli.
Penonton kita belum bisa menjadi subyek, yang ikut memilih program yang bagus dan yang tidak layak tonton. Bahkan, pemirsa juga belum bisa membedakan program yang boleh untuk ditonton bersama keluarga, dan program yang membahayakan keluarga.
Di dunia TV, yang menjadi dewa adalah rating/share, yang sialnya, sudah belasan tahun dimonopoli oleh satu lembaga survei. Terlepas data yang didapatkan benar atau tidak, akurat atau tidak, angka-angka share dan rating sudah menjadi referensi semua yang terlibat di industri TV. Mulai dari pengelola, kreator, sampai pemasang iklan. Semua hanyut dalam gelombang bernama rating.
Dengan kondisi penonton seperti itu, menjadi tidak penting, apakah program tv itu edukatif atau tidak. Yang penting, pemirsa senang, terhibur. Soal risiko setelah menonton acara, itu menjadi tanggung jawab masing-masing individu. Menjadi aneh juga bila kita lantas menganalisis, apakah reality show itu benar-benar nyata atau dramatisasi. Juga tidak penting masuk akal atau tidak, yang penting happy (seperti halnya kecenderungan sebagian besar sinetron kita).
Dalam Termehek-mehek. Salah satu episode menampilkan seorang “klien” yang mengungkapkan adiknya jatuh sakit karena ditinggalkan cowoknya. Ditinggal pacar adalah persoalan banyak remaja. Begitu juga, perempuan yang tidak tahan, lantas depresi, juga bukan hal yang aneh. Di layar kaca, persoalan itu lantas dikemas menjadi tontonan yang menarik. Di ujung cerita, ada pertemuan mengharukan antara klien dan target. Ada yang memuji, Trans TV patut diacungi jempol karena acara menayangkan program reality show yang bernilai pendidikan, yaitu mendidik kita bahwa kasih sayang antarsesama manusia itu ternyata sangat indah.
Bagi sebagian orang yang mengerti tentang industri film dan televisi, cukup mudah untuk menilai program yang benar-benar nyata, dan mana program yang sebenarnya sinetron gaya lain. Artinya, bisa jadi, ada unsur manipulasi. Ada unsur akting semua orang yang terlibat. Ada skenario dan juga penyutradaraan. Meski begitu, sebagai tontonan, sebenarnya tetap sah membuat demikian. Yang dituntut memang kejujuran para kreatornya: apakah ia berani mengklaim program itu reality show atau sebenarnya realitas yang semu. Yang dibuat-buat.
Yang mengkhawatirkan, jika penonton akhirnya tahu, program kesayangannya adalah manipulasi, maka bisa jadi mereka akan serta merta meninggalkan program tersebut. Enggan menonton lagi. Jika satu orang yang tahu, tidak masalah. Jika sejuta orang tahu, baru akan menjadi masalah. Atau, kita tunggu sampai mayoritas orang menjadi bosan.
Reality Show yang Sehat
Di luar acara-acara tadi, kita masih bisa berharap sedikit dari beberapa program reality show yang benar-benar realis. Kita lihat Snapshot (Metro TV), Mata Kamera (TV One), dan John Pantau (Trans TV). Tiga program ini menelanjangi realitas-realitas yang begitu dekat dengan kita. Tentang perilaku orang-orang, entah itu orang-orang biasa, atau justru berjuluk orang pemerintah.
Snapshot, Mata Kamera, dan John Pantau menjadi kacamata yang cerdas untuk menyisir kisah-kisah tentang pelanggaran hukum. Tentang kesemrawutan, tentang sesuatu yang terlihat sudah biasa, padahal sebenarnya menyalahi tata aturan sosial. Kita biasa melihat orang-orang jahil saat menggunakan fasilitas umum, PNS yang berbelanja di saat jam kerja, atau aparat yang meminta uang “jago” di jalanan.
Yang ditampilkan ketiga program itu sebuah kenyataan. Tanpa ada rekayasa. Sangat jelas beda dengan program yang disebut terdahulu, yang memiliki rating dan share tinggi tadi.
Ketiganya hanya menyajikan potret buram sebagian masyarakat kita. Naik motor tanpa helm, memutar kendaraan di tempat terlarang, pacaran di atas jembatan, atau juga anak sekolah yang justru asyik main game saat jam pelajaran. Atau juga perilaku warga yang hanya taat hukum di saat ada polisi, atau justru polisi yang justru berkendara tanpa memiliki SIM.
Semua itu biasa kita temukan. Kita menyaksikan itu sehari-hari, tetapi tak punya daya untuk menyampaikan, meski sekadar menyindir. Dan, tiga acara ini, dengan cara yang berbeda: menelanjanginya. Unsur spontitas, keluguan orang-orang yang ditemui, menjadi protret kita bersama. Inilah reality show yang sesungguhnya.
Kita masih berharap makin banyak program yang berani mengungkap kebenaran. Yang membuat orang makin bisa mengerti tentang realitas hidup, bukan hidup yang didramatisir. Bukan cerita bohong penuh mimpi seperti biasa hadir dalam sinetron-sinetron. Dan, Anda, penonton TV, punya andil untuk ikut menentukan program yang mengibur-mendidik atau menghibur-membodohi./*
Pracoyo Wiryoutomo, jurnalis televise.
Diposting oleh
Delicious News


0 komentar:
Posting Komentar